Kamis, 02 Oktober 2014

Geist, Jo!

Diposting oleh Nanda maulida di 11.13
Buat postingan terakhir (5 postingan tugas dari kakak angkatan karena masih maba), aku bakal posting prolog novelku--duet sama Suryaningrum Ayu Irawati, yang bakal terbit gak tau kapan hihi :p Tapi lagi tahap revisi akhir biar bisa dikirim ke penerbit :D
Btw karena blogku sepi pengunjung dan paling cuma temen-temen deket aja yang buka, jadi aku ijin share prolognya ya Ayuk :p



PROLOG
Joanna selalu yakin pada adanya keajaiban.
Ketika anak-anak lain menjadi besar dengan sibuk bermain di masa kecilnya, Joanna justru dibesarkan dengan buku-buku yang membangkitkan imajinasinya.
Kata Mama, buku pertama yang dibaca Jo sampai tuntas adalah kumpulan dongeng Hans Andersen. Buku itu tadinya merupakan koleksi Mama, lalu dihadiahkan pada Jo ketika Jo berumur enam tahun (papa memberitahu Jo kalau sejak kecil Jo suka membuka-buka buku itu). Lalu, dilanjutkan dengan buku-buku dongeng yang ditulis mamaMama Jo seorang penulis.
Buku-buku itulah yang membentuk Jo seperti ini. Cerita-cerita tentang bintang yang lelah dan bosan karena terus-menerus berada di langit, lantai kamar yang hobi menggerutu karena si pemilik kamar jarang menyapunya, atau keran air yang jengkel karena sering lupa dimatikan.
Mama pernah bilang, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah ketetapan yang digariskan Tuhan. Dan kalau ada sesuatu yang luar biasa dan menyenangkan terjadi tanpa kita duga, itu suatu keajaiban yang diberikan olehNya. Mama percaya keajaiban.
Begitu pun Joanna.
Dan itulah yang membuat Jo melakukan inibersepeda ke taman kota, merencanakan sesuatu. Di keranjang sepedanya, ada sebungkus plastik.
Jo mengayuh sepedanya dengan cepat, seakan bersaing dengan waktu. Sesampainya di taman, dengan cepat ia memarkirkan sepedanya, meraih tas plastiknya, lalu berlari ke salah satu pohon. Jo tidak tahu apa nama pohon itu, tetapi saat kemarin ia mencari pohon yang cocok, pohon itulah yang sesuai.
Joanna mendongak, tersenyum lebar memandangi pohon di depannya. Ia membuka tas plastiknya, mengeluarkan banyak burung kertas berwarna-warni yang telah dikaitkan dengan benang. Lalu, ia naik ke atas bangku yang berada tepat di bawah pohon—membiarkan tanah yang menempel di sepatunya mengotori bangku. Tidak lama kemudian, gadis kecil itu sudah sibuk menggantungkan burung kertas itu ke ranting-ranting pohon yang masih dapat diraih Jo.
Semalam, Jo sudah mempersiapkan semua ini. Ia menuliskan berbagai macam profesi yang menurutnya bisa cocok untuknya, lalu membentuknya menjadi burung kertas.
Awalnya, hanya karena pertanyaan guru Jo di sekolah, “Apa cita-cita kalian?
Semua anak menyebutkan cita-cita mereka dengan bangga. Jo satu-satunya murid yang terlalu bingung untuk menjawab. Ada banyak yang dicita-citakan Jo sampai Jo tidak tahu harus memilih mana.
Hari itu, Bu Prang—guru Jo, hanya tersenyum, lalu berkata, “Tidak apa-apa. Yang jelas, pilihlah cita-cita sesuai dengan kesukaanmu, sesuai dengan mimpimu.”
Dan hari ini, Jo yakin, sesuai harapannya, burung kertas yang pertama kali berpindah tempat dari pohon ini bertuliskan cita-cita yang cocok untuknya.
Besoknya, Jo kembali lagi. Jo menghitung kertas di sana. Masih sama saja. Enam belas burung kertas menggantung di sana.
Ketika hari berikutnya, Jo memekik senang ketika ada satu burung kertas yang hilang. Tapi burung kertas itu tidak ada di bawah pohon, tidak juga di sekitarnya. Joanna berusaha mencarinya.
Ujung-ujungnya Jo menyerah. Ia duduk di salah bangku di taman. Kemudian ia mendongak. Dilihatnya langit yang ternyata sudah berganti jingga.
Juga melihat burung kertas merah yang menggantung-gantung tertiup angin.
Joanna terpana. Ia bergegas berdiri, naik ke atas bangku, lalu mengambil kertas itu.
Menjadi seperti Mama.
Joanna terkikik geli. Kalau di kertas lain ia menuliskan hal-hal seperti dokter, guru, pramugari, desainer, dan sebagainya, ada dua kertas di mana ia hanya menulis ‘menjadi seperti mama’ dan ‘menjadi seperti papa’.
“Bodoh.”
Joanna berbalik. Seorang laki-laki bertubuh gemuk berjalan ke arahnya. Joanna mengenalinya. Jo melompat ke tanah, lalu berkata, “Oh, Leo. Kamu yang memindahkan ini?”
Leo mengangguk. “Aku penasaran pas anak bule kayak kamu ke sini. Ternyata cuma gitu. Aku ambil satu, terus aku pindahka.”
Joanna hanya tertawa. “Aku Cuma ingin tahu apa yang aku dapat,” ujar Jo. Ketika Leo tidak menampakkan tanda-tanda akan membalas perkataannya, Joanna bertanya, “Jadi, apa mimpimu?”
“Mimpi?”
“Iya, mimpi. Keinginan. Kamu ingin jadi apa? Yang kamu suka? Cita-cita?”
“Aku nggak punya keinginan.”
Joanna mengerutkan kening. “Kamu sama-sama kelas lima kayak aku, kan? Guru di kelasmu nggak tanya soal cita-cita?”
“Nggak.

“Oh.” Jo mengangguk-angguk. “Nggak apa-apa. Aku juga. Kemarin pas ditanyain Bu Guru aku nggak bisa jawab. Tapi ... bisa juga nanti aku jadi kayak Mama,” Joanna menggerak-gerakkan burung kertas di tangannya. Lalu Joanna terdiam sendiri, matanya menerawang. “Gimana, ya, rasanya jadi sesuatu yang kita inginkan?
Yeay! Jangan lupa di beli novelnya kalo udah terbit yaaaa^^

0 komentar:

Posting Komentar

 

HAI NAND[A]CIL. Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting